contoh Hikayat

Jumat, 02 November 2012


Hikayat Kuda Api


MASIH banyak orang yang diam-diam mencari kuda api. Aku tahu itu. Mereka bergerak seperti bayangan, bersilangan di tembok-tembok. Saling bercuriga dan tentu, rapat menyimpan rahasia. Siapa saja mereka? Di antara mereka sendiri pun, barangkali, tak saling mengenal selain hanya menduga-duga. Ah, kuda api, kuda sihiran! Kuda pejantan itu, konon, seluruh bulunya berwarna merah laksana api menyala, dengan sulai bagai terbakar....
"Setiapkali kuda api lewat," kata engkong, "Seolah tercipta puting beliung." Aku terpukau dan mencoba membayangkannya. Meski kata engkong, kuda itu terlampau cepat. Nyaris tak seorang pun dapat melihatnya dengan jelas. Ia selalu lewat bagaikan angin, sehingga hanya kelebat bayangan merahnya saja yang tertangkap mata.
Ah, sebenarnya hikayat ini telah lama berkembang di kampung kami, dan tampaknya tak seorang pun yang masih memedulikan. Ia ibarat cerita yang sudah basi, setelah turun-temurun dikisahkan. Meski tetap saja mengendap. Mungkin hanya engkong yang masih setia menumbuhkannya di kepalaku hampir setiap malam sebelum tidur. Seolah beliau punya kewajiban memelihara hikayat itu, dan berkewajiban pula menumbuhkannya dalam kepalaku.
Entah berapa ribu kali sudah, beliau berkisah tentang kuda merah itu. Dengan suaranya yang serak namun teratur, engkong seakan hendak menghadirkan kuda mestika itu dari negeri antahberantah. Dan antara kantuk dan terjaga, aku seolah dapat mendengar derap ladam kuda itu memalu tanah, juga sambaran angin keras dari tubuhnya yang berkelebat laksana anak panah terlepas dari busur. Melesat entah ke mana. Hanya bayangan merah, ya, bayangan merah. Kian mengabur dari pelupuk mataku yang berat bersama suara derap kakinya yang menjauh. Sebelum tertidur lelap, aku masih sempat membayangkan debu-debu yang mengepul.
Dan aku bermimpi melihat kuda itu. Begitu gagah di atas tebing cadas yang menghadap ke laut, sementara langit bulan lengkung. Si kuda api, dengan tubuh laksana api menyala, meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Ringkikan yang penuh luka, penuh resah. Terasa mendirikan bulu roma.
SEPASANG mata lelaki tua bersorban putih itu tampak begitu gelisah di bawah remang nyala obor. Entah sudah berapa lama ia mondar-mandir di halaman surau kecil di tepi hutan itu. Sesekali ia mendongakkan kepalanya ke langit malam yang buram, lalu mengelus-elus janggutnya yang separuh warna. Sementara tangan kanannya yang mengenggam tasbih bergerak tiada henti.
"Sudah lewat sepertiga malam, Guru," salah seorang dari dua lelaki muda yang sedari awal hanya diam di bawah rindang sebatang rambutan, tiba-tiba bersuara. Lelaki tua bersorban tidak menjawab, hanya terus mondar-mandir sambil menghitung biji tasbihnya. Lelaki muda bertubuh ceking yang bicara jadi salah tingkah. Angin berembus sedikit kencang, membuat daun-daun pepohonan mendesau. Lelaki muda ceking itu menggigil kedinginan, "Guru...."
"Diamlah, Pengkin!" hardik lelaki tua bersorban melirik tajam. Wajahnya tampak semakin gelisah di antara liukan api obor bambu yang tertancap di halaman surau. Malam semakin hening, terasa mencekik. Tak terdengar suara jangkrik atau kodok. Lelaki tua bersorban kembali mendongak ke langit, mendesah kecewa karena apa yang ditunggunya belum juga muncul. Langit nyaris tertutup mendung, hanya beberapa bintang berkerdip lemah.
"Guru...," akhirnya lelaki muda yang satu lagi memberanikan diri bersuara, tentu dengan hati-hati, "Apa kita akan tetap menunggu, bagaimana kalau...," ucapannya berhenti, matanya tak kalah gelisah.
"Kita tunggu sebentar lagi, Indra," tukas lelaki tua bersorban tegas. Indra cuma mengangguk. Ketiganya kembali terdiam. Angin kali ini seolah membeku, pohon-pohon tegak kaku bagaikan makhluk-makhluk asing yang sedang berjaga.
"Guru! Lihat!" tiba-tiba Pengkin berteriak sambil menunjuk ke arah langit. Lelaki tua bersorban dan Indra seketika mendongak. Ada senyum kecut yang memanjang di wajah keriput lelaki tua bersorban, buru-buru ia memasukkan tasbih ke kantong jubah hijaunya. Mulutnya berkomat-kamit entah mengucapkan kalimat apa.
"Mana patung kudanya?" tanyanya agak tersengal sambil mengulurkan tangan pada Pengkin. Bergegas lelaki ceking itu membuka buntalan kain yang selalu disandangnya. Tangan Pengkin sedikit gemetar ketika mengeluarkan benda dari dalam buntalan itu. Sebentuk patung kuda dari kayu berukuran sejengkal, berwarna merah tersembul dari balik kain. Segera diulurkannya patung kuda tersebut kepada lelaki tua bersorban yang menerimanya dengan cepat. Masih berkomat-kamit, lelaki tua bersorban meletakkan patung itu dengan hati-hati di depan kakinya.
"Ingat, apa yang terjadi malam ini adalah rahasia kita bertiga. Jangan pernah sesekali kalian ceritakan kepada siapa pun, atau kita semua akan celaka. Terlebih rahasia mantranya." Lelaki tua bersorban menatap kedua muridnya dengan wajah tegang, suaranya dalam seperti mengancam. Wajah Pengkin dan Indra ikut tegang. Keduanya mengangguk kaku.
Lelaki tua bersorban kembali mendongak ke langit. Bulan sabit tampak berkilau keperakan. Indah namun terasa mencekam. Lelaki tua itu mengangkat kedua tangannya, tengadah seperti berdoa. Cukup lama, sebelum akhirnya perlahan kedua telapak tangannya dibalikkan menghadap patung kuda yang terletak di atas tanah di depan kakinya.
Aku mendengar lelaki tua itu mengucapkan "bismillah" lalu serentetan kalimat cepat yang tak kupahami meluncur dari bibirnya.
"Kemarikan obor!" teriaknya. Dan aku terbangun dengan sekujur tubuh banjir keringat. Kulihat dipan di sampingku kosong, engkong tak ada. Ah, ke mana engkong? Kedua mataku masih terasa berat, tapi aku kepingin kencing.
KAU memanggil kuda itu "Sapar Maulana". Entahlah, dalam mimpimu yang ke berapa kau pernah mendengar nama itu disebutkan. Oleh siapa dan di mana tempatnya, kau barangkali lupa. Tapi kau seakan begitu yakin, kuda itu memang diciptakan pada bulan Sapar, ketika bulan sabit yang muram tampak begitu anggun sekaligus menakutkan di atas langit. Didahului lafadz "bismillah", kau membacakan mantra penjinak yang entah sejak kapan kau ingat di luar sadar. Kuda merah itu meringkik keras. Semak-semak tersibak oleh angin kencang tatkala kuda itu menderu ke arahmu. Sejenak air mukamu mengeras, matamu terbelalak, mungkin antara takjub dan takut. Tapi ketika kuda merah itu sampai di hadapanmu, dengan sigap kau melompat. Hup! Hup! Hiiyaaaa...! Dengan tangkas dan ringan, kau melompat ke atas punggungnya yang menyala dan menyambar sulainya yang terbakar. Hiiiyaaaaa...! Kau segera menggebrak si kuda api, kedua kakinya terangkat dan ringkikan keras melengking dari moncongnya sebelum akhirnya melesat ke depan laksana anak panah. Menerobos semak belukar dan pepohonan.
Aku tertegun. Tak percaya kau begitu gagah, bagaikan Indra yang menderu ke medan laga dengan golok batu di tangan kanan, mata yang bernyala-nyala dan wajah bercahaya terbasuh air wudhu. Ada gema azan isya yang sumbang mengasah ringkik si kuda api, dan aku seakan kembali melihat orang-orang kafir putih dan para pengkhianat yang kocar-kacir, bertumbangan tersambar tajam golok batu atau terdepak kaki si kuda api. Tubuh-tubuh terlempar. Warna merah berhamburan di atas semak belukar, warna darah dan api yang saling berbelit.
"Kuda api kuda sihiran! Bawalah aku kepada musuhku-musuhku, kita tumpas semua iblis penenung tanah moyang! Merajah siang, mendepak malam!" Indra berteriak lantang.
Ah, seperti yang telah lama tersurat, setiap kali golok batu ditebaskan, sesosok tubuh akan roboh bersimbah darah. Dan kuda api menjelma kuda sedeng, melesat kian-kemari bagai mata panah mencari mangsa. Berkelebat bagaikan bayangan, bagaikan deru angin. Panji-panji perang terbakar di tengah padang semak samun. Pedang, golok, tombak, cambuk terus bersilangan, seperti berkejaran dengan rakaat Salat Isya. Kulihat Indra terus mendesak ke depan kepungan orang-orang kafir putih dan para pengkhianat. Pelor-pelor yang beterbangan dikibasnya dengan sekali putaran golok batu, cukup setengah lingkaran. Wajahnya terang bagaikan purnama. Ya, sebagaimana nujuman sang guru, setiap kali kuda api mendengus, satu nyawa dipastikan melayang.
Tapi aku melihat satu sosok yang tak asing menyelinap di tengah barisan musuh. Wajahnya pucat bagai tak berdarah. Ya, kukenali sosok itu sebagai Pengkin. Tubuhnya tampak jelas gemetar di atas punggung kuda hitam ketika merapat ke kuda pimpinan orang kafir putih yang berwajah tak kalah pucat. Entahlah apa yang dibisikkan, malam terlalu gaduh oleh denting logam beradu dan letupan pelor. Ketika kuda hitamnya melesat ke depan barisan, Pengkin kian gemetaran. Salah seorang pengkhianat mengulurkan obor padanya yang disambut dengan gugup. Kutahu, Indra bakal menarik tali kuda api. Kutahu betul! Kuda api meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas.
"Kau!" Indra mendesis kaget. Pengkin masih gemetar di atas punggung kuda. Keduanya bertatapan. Wajah terkejut Indra perlahan-lahan berubah merah, semakin merah di bawah terang purnama lima belas dan nyala puluhan obor. Tangan kirinya terlihat kejang pada kekang. Keheningan menjadi sempurna. Puluhan obor meliuk gelisah. Kulihat tangan kanan Indra yang mengenggam golok batu bergetar. Tiba-tiba Pengkin kembali menggebrak kudanya maju sambil berteriak garang. Tangan kanan Indra bergetar keras, tapi kulihat kebimbangan bersarang di sepasang matanya yang kelam.
"Kuda api, kuda sihiran! Dari kayu kembali ke kayu, dari api kembali ke api! Bila ini mantra tak cukup mengantar kau pada moksa, pergilah kau ke dunia hikayat yang tak kasat mata!" sembari mengangkat obor di tangan kanannya tinggi-tinggi, Pengkin berseru lantang. Lalu.... Bla, bla, bla, bla, bla, blaaa...! Sederetan kalimat meluncur deras dari mulutnya, tak terpahami.
Kuda api meringkik keras, meraung. Sekujur tubuhnya laksana dikobari api dahsyat. Di atas pelana, Indra berteriak. Tubuh lelaki muda itu terjungkal dari punggung kuda. Semua orang ikut berteriak demi menyaksikan bagaimana si kuda api berputar laksana gasing. Angin berpusing bagaikan beliung. Tubuh-tubuh terlempar ke udara, semak-semak tercabut, batu-batu berhamburan, pohon-pohon tumbang. Lalu purnama lima belas Ramadan sehening kuburan....
Tapi kau bukan Indra, Cucuku! Aku tahu hatimu tak pernah bimbang. Aku yakin, kau akan tetap menggebrak si kuda api mendepak maju menjemput kematian musuh! Kau telah menyaksikan dalam mimpi-mimpimu, bagaimana kuda api menghilang ke dunia hikayat, golok batu patah berdentang di atas batu hitam, dan Indra, pendekar yang bimbang, mati dengan dua belas lubang pelor di tubuhnya.
Kunujum kau jadi satria kelana pembawa nubuat lama yang tak kenal bimbang, Cucuku!
SEPERTI yang telah aku katakan, hikayat itu telah lama berkembang di kampung kami. Telah lama sekali, sehingga tampaknya tak seorang pun yang masih mau menggubrisnya, berkenan meluangkan waktu untuk menuturkan dan menyimaknya. Lagipula, hikayat dan dongeng-dongeng baru terus saja berlahiran. Lebih canggih dan lebih menarik. Tentu, siapa lagi yang mau mengisahkan dan mendengar sebuah cerita lama yang tokoh utamanya jadi pecundang! Barangkali hanya kami berdua, engkong yang terus menuturkannya berulang-ulang, dan aku yang selalu bersedia mendengarkan.
Namun tidak! Aku tahu, tidaklah benar jika hanya kami berdua yang masih menjaga dan menghidupkan kisah. Ya, aku tahu, diam-diam, banyak orang yang masih terus berusaha mencari si kuda api yang lenyap ke dalam hikayat --tatkala mantra sakti diucapkan Pengkin di malam purnama lima belas Ramadhan-- itu. Masih banyak orang. Mereka berseliweran seperti bayangan yang tak kentara di tembok-tembok, di antara rapat pepohonan. Waspada dan penuh rahasia.
Karena syahdan, sebagaimana cerita engkong, suatu hari si kuda api akan kembali dan siapa pun yang memilikinya akan mendapatkan kedigdayaan.
"Tetapi hanya seorang yang telah ditakdirkan berjodoh dengannya, mampu memanggil si kuda api kembali dari alam hikayat," tukas engkong, "Seorang yang bersedia merawat hikayatnya dan tak bimbang seperti Indra. Seorang yang mampu mengucapkan mantra saktinya, dan konon ruh si kuda api sendirilah yang akan membawakan mantranya kepada orang itu."
Engkong melirikku tajam, dan aku membayangkannya seperti orang tua bersorban putih yang menciptakan si kuda api dari patung kayu dan api obor di malam bulan Sapar ketika bulan sabit muram di atas langit. Ah, jawara tua berjenggot putih tanpa lawan yang menemui kematiaan naas di malam Lailatul Qadar!
"Karena pengkhianatan Pengkin, muridnya," cerita engkong, entah untuk yang ke berapa ribu kali. Aku hanya mengangguk, tak lagi dengan penuh penasaran bertanya seperti saat pertama kali engkong menuturkannya. "Kenapa, Kong? Kenapa Pengkin mengkhianati gurunya?"
Waktu itu engkong tertawa terkekeh. Beliau tidak segera menjawab, tapi sibuk melinting tembakaunya sehingga aku harus bertanya dua kali. Mata engkong berbinar-binar, seolah begitu menikmati ketidaksabaranku menunggu lanjutan kisah.
"Karena si kuda api ternyata memilih Indra sebagai penunggangnya. Padahal sang guru telah mengangkat Pengkin sebagai pemimpin lasykar para santri," bisik engkong sembari menghisap tembakau lintingannya dalam-dalam. Asap tembakau yang harum meliuk-liuk lalu perlahan melayang keluar lewat jendela kecil pondok yang terbuka. Aku mencoba membayangkan kekecewaan Pengkin dan diam-diam menjadi gelisah. Angin malam sedikit kencang, mengantarkan udara yang basah dari halaman.
AKU bisa menyaksikan sosok Pengkin menyelinap ke pekarangan belakang surau kecil itu. Sesekali bayangan tubuhnya timbul-tenggelam di antara rapat tanaman singkong. Bulan separuh muncul-menghilang di balik awan tebal. Cahaya yang samar sekilas menyinari wajahnya, memperlihatkan air mukanya yang begitu tegang.
Aku terus mengikuti langkah lelaki ceking itu hingga tiba di depan pintu belakang surau. Kulihat ia menoleh ke kiri-kanan-belakang dengan cepat. Setelah memastikan tak ada orang, lelaki ceking itu bergegas mengetuk pintu, "Guru.... Guru, ini aku, Pengkin."
"Guru...," sekali lagi ia memanggil. Angin serasa membeku. Cukup lama, pintu itu baru terbuka perlahan.
"Cepat masuk!" terdengar suara berat berbisik. Pengkin cepat-cepat menyelinap ke dalam, dan pintu segera tertutup.
Ruangan itu gelap, hanya ada nyala kecil sebuah lampu yang tampaknya kekurangan minyak di pojok. Tapi aku bisa mengenali sosok lelaki tua bersorban yang duduk bersila di tengah ruangan itu. Pengkin langsung menjatuhkan diri duduk di hadapannya.
"Kau yakin tidak ada yang melihatmu?" suara lelaki tua bersorban terdengar tajam. Pengkin hanya mengangguk. Aku merasakan aura di dalam ruangan itu sangat tidak nyaman.
"Kau siap melakukannya 'kan?" tanya lelaki tua bersorban. Pengkin tidak menjawab, hanya menunduk.
"Pengkin! Jawab pertanyaanku!" lelaki tua bersorban menghardik.
"Aku tidak tega, Guru...," suara Pengkin terdengar kecut.
"Dia sudah jadi pendekar kesohor yang dipuja orang di mana-mana. Dan jadi tinggi hati, seolah hanya dialah jawara! Sedang kau cuma jadi cecunguk!" lelaki bersorban mendengus, "Dipikirnya tanpa kuda api ciptaanku, dia bisa jadi seperti sekarang." Aku merasakan sekujur tubuhku bersimbah peluh karena gerahnya ruangan.
"Tapi bagaimanapun dia sahabat baikku," jawab Pengkin lemah, masih menunduk.
"Aku tidak suka sikapmu yang pasrah, Pengkin! Kau pikir dia sungguh-sungguh menganggapmu sebagai sahabatnya?" suara lelaki tua bersorban bergetar menahan kemarahan. Api lampu minyak mendadak padam, dan ruangan menjadi pengap.
"Lakukanlah besok malam! Kita akan diserang tepat waktu isya. Ini perintah!" tegas lelaki tua bersorban, "Kau paham, Anakku?" "Iya, Guru...," Pengkin menjawab lirih.
"Sudah berulang kukatakan, jangan panggil aku guru kalau kita sedang berdua. Panggil ayah," suara lelaki tua bersorban tiba-tiba berubah lembut. Dan aku tahu, dalam gelap Pengkin menunduk semakin dalam.
NAMUN engkong masih terus bercerita bagaimana kecewanya lelaki tua bersorban pada pengkhianatan muridnya, Pengkin.
"Dia harus menemui kematian begitu mengenaskan karena pengkhianatan Pengkin," tukas engkong dengan nada sedih, "Lenyapnya kuda api dan tewasnya Indra telah melumpuhkan kekuatan para santri dan begitu memukul hati Syekh Maulana.”
Lalu engkong kembali mengisahkan peristiwa pada malam dua puluh delapan Ramadan itu. Aku merasakan malam yang begitu sunyi. Tak ada sesayup pun suara. Segala satwa malam seolah lelap, bahkan angin seolah mati. Dari dalam surau kecil di pinggir hutan itu, hanya lamat-lamat terdengar suara orang mengaji yang begitu merdu dan sempurna. Mengalun seperti perahu jung di tengah lautan.
"Tapi menjelang dini hari," kata engkong seperti menahan sesuatu, "Kesunyian itu dipecahkan oleh hiruk-pikuk derap kaki kuda dan teriakan." Aku menahan tegang. Kubayangkan barisan ratusan batang obor di atas punggung kuda yang bergerak cepat menuju surau kecil di pinggir hutan itu. Derap kaki-kaki kuda itu semakin lama semakin keras.
"Keluarlah Syekh Maulana! Kau sudah terkepung!" begitu rombongan itu sampai di depan surau, sang pemimpin orang kafir putih segera maju dan berseru lantang di atas punggung kuda. Tapi tiada jawaban dari dalam surau, selain suara mengaji yang mengalun merdu. Ratusan kuda meringkik gelisah. Pemimpin orang kafir putih itu tampak kehilangan kesabaran, "Syekh Maulana, keluarlah dan menyerah baik-baik, kau akan kuampuni! Atau kami terpaksa mendobrak tempat ibadahmu!"
"Tak perlu repot-repot," tiba-tiba sebuah suara menyahut tenang. Dengan kaget semua orang berpaling ke arah batang rambutan di sudut kanan halaman surau. Seorang lelaki tua bersorban entah sejak kapan telah berdiri di bawah pohon.
"Syekh Maulana, kau kami tangkap!" teriak pemimpin orang kafir putih dingin, "Bawa dia!" Lelaki tua bersorban bergerak maju memasang kuda-kuda.
Aku melihat lagi ratusan mata pedang, golok, dan kapak terangkat, memantulkan merah cahaya obor yang meliuk-liuk ganas. Aku melihat ratusan busur dan bedil terpasang. Tapi tak perlu kuceritakan bagaimana tajamnya ratusan mata pedang, golok atau kapak berkelebat, dan bagaimana ratusan mata panah dan pelor melesat setelah Syekh Maulana menolak dibawa. Mungkin engkong benar, Syekh Maulana terlalu yakin dengan ketangguhan jurus bombang dan wapak kebalnya, sehingga ketika ratusan mata pedang, golok, kapak, mata busur, dan pelor bersarang di tubuhnya, ia masih terbelalak tak percaya. Seharusnya ia memekik menyebut nama Allah atau mengulang dua kalimah syahadat, tapi tubuhnya keburu ambruk tanpa suara. Aku yakin, ia tahu seseorang telah membocorkan rahasia kesaktiannya....
Ai, entah untuk yang keberapa ribu kali, engkong menatapku demikian rupa sehabis bercerita. Dan aku mengerti makna tatapan itu. Aku memang bukan Indra, tapi aku juga tak ingin menjadi penunggung kuda api yang kedua setelah Indra. Aku tak ingin menjadi pendekar kelana pembawa nubuat lama dalam nujumannya. Bila saja mungkin, aku hanya ingin seperti Pengkin, lenyap ke dalam suram hikayat dan tak pernah diramalkan akan kembali.
"Bila saja mungkin...," Aku mendesah sambil melirik kedua kakiku yang kekecilan dan lunak tak bertulang.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Wija-wajo.Blog © 2013 | Plantilla diseñada por Ciudad Blogger